[30/5 12.10] H.Eros Wasis,M.Tr.Han: Nasehat Ba'da maghrib,
KH. Abdulloh Mas'ud di Gedung Broading School Kendal, 25 Mei 2017

1. Tidak semua orang yang ingin kaya itu pasti kaya. Kalaupun sukses jadi orang kaya, itu hanya sukses di dunia saja yang dinikmati sebentar.

2. Barang siapa yg menghendaki dunia/ kekayaan, maka Alloh akan memberi sesuai yg dikehendaki-Nya

3. Dunia itu mencarinya payah, sudah dapat pun masih payah, nikmatnya sebentar, mati pun masih harus dipertanggungjawabkan

4. Rizqi itu lebih tau dimana alamat kita daripada kita sendiri. Kalau rizqi itu sudah menjadi bagian kita, dimanapun kita berada rizqi itu pasti datang

5. Urusan dunia itu sesuatu yg tidak bisa kita banggakan ketika sukses dan tidak perlu disesali ketika gagal

6. Dunia itu sangat kecil, gak pantas kalau sampai dijadikan alasan untuk bangga apalagi stress

7. Nabi pernah menggambarkan, ada cempe kecil cacat dan sudah jadi bangkai kemudian ditawarkan pada sahabat seharga 1 dirham. Sahabat menjawab: hai Nabi, jangankan membeli 1 dirham, diberi cuma2 saja kami tidak mau. Nabi: ketahuilah sesungguhnya dunia lebih hina daripada ini. Kalau tau dunia seperti itu, hanya orang2  bodoh saja yg bangga karena harta banyak dan susah krn miskin

8. Jadikan surga ambisimu dan satu-satunya cita-citamu, yang lainnya boleh asalkan tidak sampai menghilangkan surga.

9. Sabda Nabi: semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang tidak mau.
Berarti semua yg mau itu bisa masuk surga, iya tapi kemauannya itu harus sungguh-sungguh dan mengikuti HidayahNya.

10. Dunia itu kalau didapatkan alhamdulillah, kalaupun ternyata tidak didapat gak masalah, karena bukan itu tujuan utama kita. Tujuan utama kita adalah surga.

11. Hal yg paling membuat seseorang bahagia adalah pandai bersyukur.

Semoga bermanfaat
[30/5 12.10] H.Eros Wasis,M.Tr.Han: "#HAKEKAT_RIZKI"
By. Abdulloh Mas'ud

[" إِنَّ الله قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخَلاَقَكُمْ كَمَاَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ الله يُعْطِيْ الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُ وَمَنْ لاَ يُحِبُ، وَلاَ يُعْطِيْ الإيمَانَ إلاَّ مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ ضَنَّ بِالمَالِ أَنَ يُنْفِقَهُ وَخَاَفَ العَدُو أَنْ يُجَاهِدِهُ وَهَابَ الَّليْلَ أَنْ يُكَاَبِدَهُ، فَلْيُكْثِر مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ الله، وَالحَمْدُ لله، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ ".( مصنف ابن أبي شيبة :صحيح )

Sesungguhnya Alloh telah membagi Ahlaq diantara kalian, sebagaimana Alloh juga telah membagi rizqi diantara kalian.

Sesungguhnya Alloh akan memberi dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai, dan tidak akan memberi keimanan kecuali kepada orang yang dicintai saja.

Barang siapa yang pelit untuk menginfaqkan hartanya,
dan takut untuk berperang dengan musuh.
Dan takut jika malam menyenangkannya (miskin)
Maka perbanyaklah mengucapkan.

" سُبْحَانَ الله، وَالحَمْدُ لله، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ "

Kalau banyak dan lancarnya rizqi itu merupakan pertanda cintanya Alloh, maka sepantasnya jika harta kita jadikan sebagai ambisi terbesar kita.

Tapi cinta Alloh itu tercermin dari keimanan kita, semakin kuat iman kita semakin kita yakin bahwa Allah mencintai kita.

Kalau Rizqi itu karena kerja keras, mestinya yang paling kaya itu kuli bangunan, tukang becak......
Kalau Rizqi itu karena kepintaran, mestinya yang sekolahnya tinggi semua kaya..

Rizqi itu sudah ada jatahnya, sekeras apapun kita bekerja tidak akan menambah jatah Rizqi kita..

Seberapapun yang kita dapat, jangan sekali-kali, disandarkan pada ketekunan dan kepandaian kita dan lupa menyandarkannya pada pembagian Alloh.
Kita diperintahkan untuk usaha dan tidak berpangku tangan menunggu datangnya Rizqi, tapi tidak pula diperbolehkan untuk berlebihan dalam berusaha, sehingga tidak peduli dengan halal harom, lalai dengan kewajiban, kewajiban yang lebih besar yaitu kewajiban menghidupi hati, meningkatkan kualitas iman dengan ilmu dan ketoatan.

Kita dipersilahkan untuk berusaha menjadi orang kaya, tapi kalapun kita tidak berhasil maka jangan anggap itu sebagai kemalangan.

Kemiskinan bukan berarti kegagalan yang harus kita cemaskan, kemiskinan bukan berarti kemalangan yang harus kita ratapi setiap saat, kegagalan sesungguhnya adalah kegagalan kita dalam mengemban amanat Alloh subhanahu wa ta'ala.
Kemalangan sesungguhnya adalah ketika kita gagal masuk surga, harus masuk neraka selamanya.

Alloh menciptakan dunia untuk kita, dan menciptakan kita untuk beribadah kepadaNya.

Seseorang tidak dinilai dari apa yang dia miliki, tapi dengan apa yang dia berikan.

Allah tidak memandang pada rupa dan kekayaan kita, tetapi pada iman yang ada dalam hati dan amalan kita.

Obatilah ketakutan dan kegelisahan terhadap masa depan dengan

1- memperbanyak dzikir :

" سُبْحَانَ الله، وَالحَمْدُ لله، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ "

2- percayalah pada qodar, percayalah yang sudah menjadi jatah kita pasti akan sampai pada kita, yang bukan jatah kita tidak akan sampai pada kita.

0/Post a Comment/Comments